# ================================================= #

FENOMENA PULAU SEKATUNG

>> Kamis, 24 Juli 2008

Pulau Sekatung salah satu pulau terluar Indonesia yang berbatasan langsung dengan negara Vietnam yang terletak di Laut Cina Selatan, berpotensi rawan konflik perbatasan diantara 12 pulau terluar rawan sengketa. Pulau Sekatung berada di bagian utara Kepulauan Natuna, Provinsi Kepulauan Riau. Secara geografis Pulau Sekatung terletak di Laut Cina Selatan pada posisi 40 47' 38" - 40 46' 41" LU dan 1080 0' 39"-1080 1' 20" BT, dan termasuk dalam Gugusan Pulau Natuna, selain pulau Sedanau, Bunguran, dan Midai.

Secara administratif Pulau Sekatung masuk wilayah Desa Air Payang, Kelurahan Pulau Laut, Kecamatan Bunguran Barat, Kabupaten Natuna. Jarak dari Pulau Sekatung ke lbukota Kecamatan Bunguran Barat di Sedanau kurang lebih 65 mil dan dipisahkan oleh Laut Natuna. Pulau Sekatung merupakan pulau tidak berpenghuni yang berada di utara Pulau Laut, dipisahkan oleh Selat Setakong. Pantai bagian utara dari pulau ini berbentuk curam dan sulit didarati dari arah laut, sedangkan di bagian selatan topografinya bergelombang dan seringkali digunakan sebagai tempat persinggahan nelayan lokal maupun asing.
Secara umum, Pulau Sekatung memiliki kondisi lingkungan yang hampir sama dengan wilayah lainnya di Kabupaten Natuna, yaitu dipengaruhi oleh perubahan angin dan cuaca. Kawasan pantai di Pulau Sekatung bagian utara dipengaruhi oleh perilaku Laut Cina Selatan yang memberikan kesan bergelombang besar. Lain halnya kawasan pantai bagian selatan yang dipengaruhi Laut Natuna yang memberikan nuansa perairan lebih tenang.

Kondisi Alam
Berdasarkan kondisi fisik, Pulau Sekatung berbentuk bukit kecil dengan ketinggian sekitar 5-6 meter di atas permukaan laut. Lereng sebelah utara agak curam dan di sebelah selatan topografinya bergelombang. Batuan tersusun dari endapan permukaan dan batuan sedimen. Secara umum struktur geologi Pulau Sekatung terdiri dari Formasi Aluvial (QA), Formasi Batuan Mafik dan Ultramafik (Jmu).
Pulau Sekatung memiliki iklim tropis basah dengan suhu udara berkisar 230 - 320 Celsius. Iklim di pulau tersebut dipengaruhi oleh perubahan arah angin, yaitu Angin Muson Timur (bulan Mei sampai September) dan Angin Muson Barat (bulan Nopember sampai Maret). Sedangkan bulan April dan Oktober merupakan masa transisi antara dua angin tersebut.
Musim kemarau biasanya terjadi pada bulan Maret hingga Mei, ketika angin bertiup dari arah utara. Sedangkan musim hujan terjadi pada bulan September hingga Februari, ketika angin bertiup dari arah timur dan selatan. Curah hujan rata-rata per tahun berkisar 2000 mm dengan kelembaban udara sekitar 85%.
Pulau Sekatung yang memiliki luas 0,3 km2 tidak memiliki sistem aliran permukaan yang berbentuk alur aliran. Hal ini disebabkan kondisi pulau yang terdiri dari batuan dasar (bedrock) yang sulit ditembus air hujan, sehingga mengakibatkan hampir semua air hujan yang jatuh di pulau tersebut berubah menjadi aliran permukaan.

Transportasi
Aksesibilitas menuju Pulau Sekatung tidak mudah, hal ini disebabkan pulau itu terpisah jauh dari pulau-pulau lain yang ada di gugusan Kepulauan Natuna dan tidak adanya transportasi reguler dari atau menuju ke pulau tersebut. Untuk menuju ke pulau ini dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu :
Pertama, Mobilisasi dari Ranai (lbukota Kabupaten Natuna) ke Sedanau (lbukota Kecamatan Bunguran Barat) menggunakan Kapal (speedboat) penyeberangan iaut dari Pelabuhan Binjai. Dari Ranai ke Binjai menggunakan angkutan umum darat, memakan waktu kurang lebih 30 menit. Dari Binjai ke Sedanau, perjalanan dengan speedboat membutuhkan waktu kurang lebih 30 menit untuk menyeberang. Di Sedanau banyak terdapat perahu motor (pompong) berkapasitas 12 - 20 orang, yang dapat disewa untuk menyeberang ke Pulau Sekatung. Selain itu dapat juga menumpang kapal pompong masyarakat yang akan menyeberang ke Pulau Laut. Penyeberangan menuju Pulau Sekatung sejauh kurang lebih 65 mil memakan waktu 6 - 10 jam.
Kedua, Mobilisasi dari Ranai langsung menuju ke Pulau Sekatung menggunakan perahu motor (pompong) yang disewa dari masyarakat setempat.

Prospek
Pengembangan kawasan pulau-pulau kecil terluar yang tidak berpenduduk melalui kegiatan-kegiatan konservasi, taman nasional laut, daerah persinggahan/tempat kapal berlabuh, dan pariwisata serta pengembangan laboratorium alam untuk penilitian dan pengembangan sumberdaya kelautan. Pulau Sekatung merupakan pulau yang tidak berpenduduk dengan luas yang relatif sempit, sehingga pengembangan pulau ini lebih sesuai untuk daerah persinggahan nelayan.
Untuk menarik agar kapal-kapal yang melintasi pulau kecil dapat singgah di kawasan ini, perlu dibangun sarana dan prasarana seperti dermaga tradisional, pelindung pantai, tempat istirahat sejenis resort atau rumah dari bahan lokal yang ada di pulau tersebut sebagai contoh menggunakan bambu atau kayu kelapa sebagai bahan dasarnya.
Untuk mendukung upaya tersebut adalah perlunya dilakukan rekonstruksi dan pemeliharaan titik referensi (TR) dan titk dasar (TD). Disamping itu perlu juga dilakukan rekonstruksi sarana bantu navigasi pelayaran (SBNP), hal ini disebabkan menara suar yang ada di pulau tersebut sudah tidak berfungsi lagi. Keberadaan pos pengamat TNI-AL yang ada di Pulau Laut yang berdekatan dengan Pulau Sekatung perlu didukung, karena sangat membantu pemerintah dalam mengawasi Pulau Sekatung.

Keberadaan
Pulau Sekatung merupakan salah satu pulau kecil terluar yang berbatasan langsung dengan Indonesia dan Vietnam. Di Pulau Sekatung saat ini terdapat mercusuar serta titik referensi (TR) dan titik dasar (TD) yang terdaftar dalam PP 38 Th 2002. Narnun saat ini kondisi mercusuar tersebut perlu direkonstruksi.
Letak pulau yang berada di Laut Cina Selatan, memberikan berbagai peluang maupun ancaman dari luar, salah satu ancaman yang serius adalah illegal fishing oleh nelayan asing, terutama dari Thailand. Hal ini disebabkan kurangnya pengawasan oleh aparat dan kondisi alat tangkap nelayan yang belum mampu menjangkau perairan ZEE, yang menyebabkan perairan tersebut dikuasai oleh nelayan asing.
Saat ini landas kontinen Indonesia masih tumpang tindih dengan landas kontinen Vietnam di Laut Cina Selatan, tepatnya di sebelah utara Pulau Natuna. Indonesia dan Vietnam telah melakukan perundingan tentang penetapan garis batas landas kontinen sejak tahun 1978, dalam bentuk perternuan tidak resmi (informal meeting) untuk merundingkan segi teknis penetapan garis batas tersebut. Hingga bulan Mei 2003 telah dicapai kesepakatan tentang penetapan garis batas landas kontinen tersebut.
Perbatasan RI-Vietnam di laut Cina Selatan hingga kini juga belum pernah tercapai kesepakatan. Vietnam telah beberapa kali menyampaikan usul, namun dasar pengukurannya berubah-ubah. Dalam masalah ini, Indonesia tidak banyak berubah dengan memakai pedoman median line seperti ketentuan yang ditetapkan dalam konvensi hukum laut 1982.

Pengamanan
Untuk menjaga dan mengamankan keutuhan dan kedaulatan NKRI, TNI menggelar kehadiran TNI AD, AL, dan AU yang terpadu, efektif, efisien pada titik-titik terluar. Setiap saat ada prajurit TNI atau kapal dan pesawat TNI, sehingga pengamanan dan keamanan wilayah Indonesia terjaga dari kemungkinan diduduki oleh pihak lain. Dan akan dibangun pos-pos TNI AD dan TNI AL dalam waktu tidak lama lagi untuk mencegah kerawanan yang mengancam pulau-pulau terluar.
Masalah perbatasan menunjukkan betapa urgensinya tentang penetapan batas wilayah suatu negara secara defenitif yang diformulasikan dalam bentuk perundang-undangan nasional, terlebih iagi bagi Indonesia, sebagai negara kepulauan yang sebagian besar batas wilayahnya terdiri atas perairan yang tunduk pada pengaturan ketentuan-ketentuan Hukum Laut Internasional dan sisanya berupa batas wilayah daratan dengan negara-negara tetangganya.
Perbatasan bukan hanya semata-mata garis imajiner yang memisahkan satu daerah dengan daerah lainnya, tetapi juga sebuah garis dalam daerah perbatasan terletak batas kedaulatan dengan hak-hak kita sebagai negara yang harus dilakukan dengan undang-undang sebagai landasan hukum tentang batas wilayah NKRI yang diperlukan dalam penyelenggaraan pemerintahan negara

Sumber: MAJALAH CAKRAWALA TNI - AL ( H. Supendi )

1 komentar:

Madiah 6 Juli 2009 21.35  

bong,sekarang lah ade orang tinggal (5 KK) di Sekatung, pelayaran Kapal Perintis pon lah masok gok kat Pulau Laot, ndk pakai mutur gek.
www.sekatung.co.cc

Posting Komentar

  © Blogger template Shiny by Ourblogtemplates.com 2008

Kembali Ke ATAS